Category Archives: Sastra

Salju Kilimanjaro*

kumpulan cerpen ernest hemingway

Gertrude Stein, seorang modernis terkemuka asal Amerika, memperkenalkan istilah The Lost Generation. Istilah ini mengacu pada para pengarang muda Amerika yang hijrah ke Prancis sehabis Perang Dunia I, termasuk pada dua pengarang kawakan saat itu: Scott Fitzgerald, pengarang The Great Gatsby dan Ernest Hemingway, pengarang The Old Man and The Sea.

Istilah The Lost Generation ini menggambarkan pahit getirnya para pengarang yang dibesarkan selepas goncangan-goncangan Perang Dunia I. Kenyataan di medan perang yang penuh borok membusuk dan kekonyolan membuka mata para pengarang ini pada hal-hal yang tidak tersentuh oleh konsep-konsep heroik dan romantik seperti patriotisme, kepahlawanan, dan pengorbanan (Budianta, 2008: xxvi). Dan Ernest Hemingway kiranya tahu betul nuansa dan rasa kelamnya perang karena ia mengalami langsung beratnya pertempuran dalam Perang Dunia I.

Baca lebih lanjut

Superhero, Peter Parker, dan Kesadaran

Seberapa kelam dan gelapnya Batman, seberapa mengagumkannya Cristopher Reeve dalam Superman, atau seberapa saktinya kawanan The Avenger hingga hebatnya para anak didik Profesor Xavier dalam X-men, seberapa heboh dan gemilangnya mereka, saya selalu punya ruang personal untuk Peter Parker dan Spidey. Apapun, atau bagaimanapun hebatnya para superhero, Spidey –terutama Peter Parker– selalu menempati ruang itu; ruang di mana saya bisa memaknai si muka jaring, lantas menautkannya pada kehidupan pribadi.

Baca lebih lanjut

Tahrir

Saudaraku,
Kita tak rela rahim peradaban jadi puing kecongkakan
Kita tak rela sungai penghidupan berderai-derai ratapan
Kamu, kita semua menistai pembudakkan kuasa bersekutu setan

Biarlah sungai itu,
sungai dimana makhluk mentafakuri Yang Maha
biarlah sungai itu
menelan yang lupa,
menyurutkan tamak yang banjir,
menyapu sepatu besi yang keropos

Saudaraku,
Kami tahu Tahrir mendidih
Itu tombak sudah meruncing memanas
ayunkan pada lalim berkarat

di sana kalian memulai, kami segera…

 

H.G. Budiman, 4 Februari 2011

Menyelami Dunia Nadira; Ulasan Novel 9 Dari Nadira

 

Hari ini (22/12), saya mencoba menyelesaikan proyek membaca yang belum rampung belakangan ini. Kemarin lalu saya lebih sibuk dengan mencari kerja; kerja yang berbuah duit. Banyak sudah waktu tersita. Saya mencoba membereskan Arok-Dedes, tinggal seperempat lagi sampai ending. Setelah novel itu tumpas, saya mencoba melahap novel yang sebulan lalu saya beli. Judulnya 9 Dari Nadira, karya Leila S. Chudori.

Sungguh, rasanya saya agak terhenyak membaca novel tersebut, agak terlarut dengan cerita dan terbawa pada dunianya Nadira. Tulisan ini pun saya kira lahir atas keresahan untuk men-save sensasi yang muncul selepas membaca novel tersebut. Sayang kiranya jika sensasi itu tidak dituangkan, paling tidak, mampu dibagikan pada khalayak luas sebagai pemenuh kepuasan diri.

Bukan maksud terlalu memuji, berlebihan, atau mengecilkan karya yang lain, namun dalam konteks tertentu novel 9 Dari Nadira paling menohok hati. Tanpa mengabaikan pengalaman membaca saya yang masih minim, rasanya novel ini menyisakan kesan bolong, agak menyesakkan, barangkali amat kecut bagi para pembaca yang lapar dengan sesuatu yang membahagiakan. Tapi toh bagusnya suatu karya bukan dinilai dari bahagia atau tidaknya ending, melainkan kesan yang ditimbulkan bagi pembacanya. Dan Leila S. Chudori sangat sukses memberikan kesan yang dalam, bahkan bagi saya pribadi terkesan menyakitkan dan membuat melongo alias terbengong setelah membacanya.

Novel yang berjudul 9 Dari Nadira ini terdiri dari sembilan bab yang masing-masing babnya mengkonstruksi kehidupan Nadira, seperti puzzle atau mozaik yang disusun perlahan untuk mendapatkan gambaran yang utuh pada akhirnya. Novel ini memang agak kurang umum, sedikit eksperimental barangkali, dan alur ceritanya tidak melulu linier. Gaya penuturan dan plotnya menjadi salah satu daya tarik dari novel ini. Pembaca dipaksa menyusun puzzle-puzzle cerita hidup Nadira, beserta tokoh-tokoh di sekelilingnya: Nina dan Arya sebagai dua kakaknya, Kemala ibunya, Bramantiyo sang ayah, dan Utara Bayu sesosok lelaki yang mendamba Nadira dengan sabar dan lebih banyak hening. Nadira menjadi porosnya yang merangkai-rangkai tokoh lain.

Cerita bermula pada kematian Kemala karena bunuh diri. Kemala tewas setelah menegak obat tidur. Kematian tersebut menyisakan goncangan yang hebat dalam keluarga Bramantiyo; termasuk anak-anaknya, Nina, Aryo dan Nadira. Lewat sepenggal-sepenggal kisah dari buku harian Kemala yang ditemukan di gudang, Nadira mencoba menengok masa lalu sang bunda juga ayahnya; sejoli yang merepresentasikan generasi pasca kemerdekaan yang terbuka pada pendidikan Barat. Bram dan Kemala membangun impian sebagai suami-istri di negeri yang jauh dari tanah air, yaitu Belanda, tepatnya di Amsterdam. Bram dan Kemala adalah pasangan terpelajar dari dunia yang berbeda: Kemala seorang campuran Lampung-Palembang dari keluarga kaya raya yang merupakan simpatisan PSI di era revolusi, latarbelakangnya cenderung sekuler. Adapun Bram adalah pemuda cerdas yang memperoleh beasiswa di Belanda, lahir dari keluarga Sunda-Jawa yang kuat pada agama, simpatisan NU dan ia sendiri dekat pula pada pemikiran Natsir. Bram dibesarkan dengan tata etika ketat. Bram kemudian menjadi wartawan, hidup dan menghidupi istri dan anak-anaknya. Di tengah benturan dan latar belakang sosial berbeda antara Kemala dan keluarga/orang tua Bram, Nina, Arya, dan Nadira dibesarkan dengan berbagai problematika keluarga di era modern; pertautan intelektualitas, tradisi, moral, benturan ideologis, dan prinsip. Juga tak lupa mengenai masalah romantika yang kelam dan tidak terlalu manis.

Leila menyajikan narasi dengan tidak lazim dan unik. Ketika membaca mungkin awalnya kita akan dibingungkan oleh sudut pandang si pencerita. Kadang dengan sudut pandang orang ketiga, kemudian sudut pandang silih berganti pada tokoh dalam cerita, atau gabungan antara orang ketiga dengan tokohnya, bahkan dalam bab ”Sebilah Pisau”, pencerita diambil dari perspektif tokoh yang tidak bertait dengan cerita pada bab sebelumnya, yakni dari sudut pandang rekan kerja Nadira yang seorang ilustrator di majalah Tera. Dalam bab tersebut Nadira menjadi objek, padahal pada bab-bab awal Nadira sendiri menjadi subjek. Walau demikian, justru kita disajikan hidangan yang fresh dan tidak membosankan, di samping itu, penggambaran sebuah karakter malah tidak luntur tetapi semakin menguat per tokohnya. Seperti yang saya kemukakan di awal, cerita dalam novel ini ibarat menyusun –nyusun sebuah puzzle.

Penguatan tokoh dan konflik batin yang terjadi dibangun seiring dengan rangkaian bab demi bab. Sekalipun penuturannya tidak linier, kedalaman karakter tokohnya tertuang dengan sempurna.

Kita dihadapkan dengan Nadira, tokoh sentral dalam cerita. Nadira dibesarkan dari lingkungan intelektual sang ayah yang seorang wartawan dan di bawah naungan sang ibu cenderung terbuka dan sekuler. Nadira bebas secara ideologis, maka ia menambatkan karirnya sebagai seorang wartawan yang penuh dengan gairah keingintahuan dan petualangan intelektual. Hingga suatu hari, tewasnya Kemala mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak, seorang wartawan, seorang kekasih, juga berpengaruh ketika ia menjadi seorang Istri. Kisah dalam novel ini penuh dengan tragedi yang menggoncang, dalam istilah Haruki Murakami, “membuat sekrup-sekrup otak agak longgar” yang tak jarang bisa berujung pada keputusan mengakhiri hidup.

Novel ini juga memasukan konflik-konflik yang berat secara psikologis. Nampaknya Leila memang berusaha menyuguhkan konflik keluarga bukan semacam masalah remeh-temeh dan klise macam sineteron di tv. Ia juga bicara tentang isu-isu feminis yang sedikit-banyak tersirat dari transisi Kemala dari seorang pengagum Simon de Beauvoir, lalu harus menjadi seorang ibu dari 3 anak dan menekan hasrat-hasrat muda dan bebas. Nuansa feminis juga terasa dari pembangunan karakter Nina juga Nadira yang tidak terikat dengan tradisi lokal dan bebas menggapai pendidikan. Nuansa elitis pun sungguh terasa karena banyak bercerita tentang lingkungan-lingkungan intelektual di luar negeri, yang berangkali belum begitu akrab dengan sebagian besar pembaca, khususnya remaja dewasa ini.

Isu-isu politis pun disisipkan secara tersirat dalam lantunan kisah novel ini, mulai dari demo mahasiswa ’66, Malari, tentang NKK/BKK, premanisme/mafioso di era orde baru, hingga isu hangat seputar 9/11 serta wacana Wars Againts Terorism. Tak luput pula masalah keluarga di era metropolitan, di mana ego suami-istri banyak berbenturan.

Sebetulnya banyak poin yang bisa dikupas dari novel ini, termasuk pula kajian dari sudut pandang filsafat semisal dengan menyuguhkan wacana psikoanalisisnya Freud tentang bawah sadar, nuansa kelam ala Camus, juga tentang ekstensialisme yang tergambar dari Nadira yang melarutkan kecemasan dengan menggeluti karya atau karir. Adapun wacana feminisme kiranya menjadi semen perekat dalam bangunan novel ini. Tiada yang salah, dan semuannya tampak begitu menarik.

Di balik semua wacana yang disuguhkan, justru saya tertarik dengan romantika “pahit” antara Utara Bayu sang redaktur majalah Tera (semacam itu klo tak salah) dengan anak buahnya; Nadira yang terkena goncangan hebat dalam hidup. Hubungan rumit antara Nadira yang tak sadar akan rasa kasih Utara Bayu, Nadira yang lebih banyak tenggelam dengan gelapnya goncangan batin dan Utara Bayu yang tak kuasa bicara, lebih banyak mendiam dan sabar, hingga Nadira pun digondol orang lain. Mengutip pernyataan Seno Gumira Ajidarma, Leila tak hanya berkisah tentang hubungan romantik, melainkan betapa manusia menjalani kehidupannya dengan rasa, dengan hati, yang tak selalu dimanjakan oleh dunia kita sekarang ini.

Akhir paragraf, saya hanya bisa sedikit membandingkan dengan novel yang sejiwa zaman; novel Saman dan Larung-nya Ayu Utami. Karya Leila (9 Dari Nadira) dan Ayu Utami (Saman & Larung) memiliki gambaran yang cenderung sama, yaitu representasi problematika sosial di Indonesia modern dengan cita rasa yang berbeda. Jika karya Ayu seperti burger yang panas dan pedas di mulut, maka karya Leila seperti es krim Cone yang dingin sampai menggigil ke jantung. Keduanya muncul dan dikemas dalam restoran gaya postmodern Indonesia. Paling tidak, itulah pandangan saya yang kini menjadi fans berat Ayu dan Leila.

***

H.G. Budiman (22 Desember 2010)

p.s: bagi teman-teman yg mungkin tertarik pada bolongnya hati atau sesaknya dada;  sebuah rasa sakit yg dirindukan seperti waktu muda dulu  ^.^!

The Ghost; Hantu dibalik Karya Autobiografi

Skandal, kejayaan, penderitaan masa lalu, dan hal-hal pribadi yang tak tersentuh oleh publik adalah syarat yang diperlukan oleh sebuah autobiografi untuk meledak di pasaran. Figur si tokoh dalam biografi itu sendiri, tentulah unsur mutlaknya. Selebriti, olahragawan, rockstar, maupun tokoh politik. Profesi yang disebutkan terakhir ini yang dihadirkan dalam novel The Ghost buah karya Robert Harris. Harris, yang belum lama ini cukup menarik perhatian lewat novel Imperium, kembali menawarkan dunia tulis menulis yang dibalut nuansa politik, namun kali ini ia membubuhi aroma thriller, dan konspirasi. Bagi pembaca yang mengharapkan unsur kejut dari pembunuhan, plot cepat dan meledak-ledak khas novel pop, siaplah untuk sedikit kecewa. Tapi tidak demikian bagi para pecinta konspirasi, apalagi minat pada politik karena The Ghost menyuguhkan isu-isu seruis seputar politik internasional  yang dituturkan dengan plot sedikit lambat namun penuh misteri tetapi cerdas.

Perang melawan terorisme. Demikian yang digembar-gemborkan para pemimpin dunia barat tahun-tahun belakangan ini. Amerika dan Inggris adalah garda terdepan dalam misi penuh kebiadaban ini. Tentulah tak ada perang yang menguntungkan, ekses negatif bagai gerbong yang membuntut. Pembunuhan, pengingkaran HAM, penyiksaan adalah sekian banyak kejahatan perang. Kejahatan peranglah yang menjadi benang merah dalam The Ghost. Adalah Adam Lang, seorang mantan Perdana Menteri Inggris, yang mencoba menyelamatkan sisa-sisa reputasinya melalui autobiografi yang sebenarnya tidak “auto”. Ya, ada penulis lain di belakang Adam Lang yang mencoba merekonstruksi ulang alur hidup seorang mantan negarawan ini. Ditengah cacian dan makian publik Inggris atas kebijakan perangnya, Adam Lang seolah menyongsong akhir karir politiknya. McAra, sang sekretaris pibadi berusaha menyusun autobiografi Adam Lang, namun ditengah penulisan McAra ditemukan tewas. Di sinilah kemudian sosok tokoh utama muncul dengan narasi sebagai ”Aku” sang penulis bayangan menggantikan McAra. Aku, si penulis bayangan ini ternyata menyibak berbagai misteri  masa lalu Adam Lang dari manuskrip milik McAra. Apakah kebijakan Inggris yang selalu mendukung Amerika ada kaitannya dengan masa lalu Lang yang dekat dengan agen CIA? Bagaimana mungkin seorang artis kampus di Cambridge, gemar berfoya-foya dan tukang gonta-ganti wanita sekelas Adam Lang dapat terjun ke dunia politik?

Konspirasi yang mungkin sudah akrab dengan telinga kita. Ada Amerika, CIA, perang, dan pembunuhan. Memang terdengar tidak terlalu istimewa. Namun The Ghost memiliki nilai plus dan sisi lain dari sebuah novel pop: deskripsi yang kuat mengenai seluk beluk kehidupan sehari-hari seorang mantan perdana menteri, sisi manusiawi, pesona, dan relasi suami istri  yang kompleks dalam sebuah keluarga negarawan. Salah satu elemn penting yang tidak bisa dilewatkan dalam buku ini adalah perkenalan kita dengan profesi Ghostwritter. Tentutulah kita tidak akan menyangka bahwa mungkin saja autobiografi sekelas Cristiano Ronaldo, Valentino Rossi,  Paul McCarthy, atau Barrack Obama sekalipun sebenarnya ditulis oleh seorang Ghostwritter.

Setidaknya novel ini mampu mengobati antusiasme pembaca yang menaruh minat pada politik dan sisi gelap dunia penulisan. Memang tak sehebat masterpiece Harris, Imperium, tetapi buku ini patut masuk list: ”buku dibaca kala senggang”. Konon buku ini adalah sindiran pada mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair.