Category Archives: Seputar Bola

Ubek Taktik dan Statistik; Menakar Daya Serang Winger dan Fullbek PERSIB*

foto-persib-vs-martapura-fc-piala-presiden-2015-jajang-sukmara_8372

Foto: Simamaung, 28 Februari 2016.

Berakhir sudah liga kopi yang penuh anomali. Di penghujung 2016, Persib menegaskan statusnya sebagai tim jago kandang sekaligus ambil posisi lima dalam klasemen akhir. Tentu bukan posisi yang terlampau membanggakan bagi tim penyadang status juara bertahan ISL. Meski demikian, posisi ini cukup untuk tak bikin malu bobotoh. Dua kali sukses menggulung Persipura di kandang dan tandang, serta gol perdana Mas Har menjadi catatan tersendiri yang patut dikenang. Catatan yang bisa menjadi secuil bukti betapa Djanur sukses merapikan beberapa kekacauan hasil tingkah polah Dejan di awal musim. Cara Djanur menata ulang skuad inilah yang lumayan menarik untuk ditelisik. Lewat data statistik yang dicatatkan oleh stadionsiliwang.com, sedikit banyak kita diberi jalan terang untuk dapat menerka pendekatan macam apa yang telah dilakukan Djanur dalam merancang ulang permainan Persib selama liga kopi.

Lupakan gegenpresing bringka bringka ala Dejan. Rudet.

Baca lebih lanjut

Menakar Potensi Persib Menerapkan Skema 3 bek ala Conte*

foto-persib-latihan-di-lapangan-karebosi-makassar-jajang-nurjaman_8153

sumber: simamaung.com

Pernyataan Ali Buschen dari stadionsiliwangi.com dalam vlog Simamaung #6 beberapa waktu lalu cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Kalau (Djanur) bisa me-master-kan bagaimana cara main 3-5-2 yang baik, Persib bisa menghajar tim-tim di TSC yang di dominasi skema 4-2-3-1. Menurut Ali, 3-5-2 secara teori menganulir keunggulan 4-2-3-1. Lantas apa yang membuat 3-5-2 menjadi istimewa? kalau kita menengok 1-2 dekade ke belakang, tim-tim di Indonesia pun banyak mengadopsi skema ini. Baca lebih lanjut

Dengan atau Tanpa Konate; Sebuah Pertimbangan Lain

084152900_1447669079-makan_konate__persib__zaidan_nazarul__1_

Ada suatu masa di mana lini tengah Persib diisi oleh Enjang Rohiman dan Ayouck Berty. Suatu periode yang mungkin masih begitu lekat dalam ingatan bobotoh, periode yang selalu kita ingat sebagai salah satu catatan sejarah buruk Persib di Liga Indonesia. Tahun itu, Persib lolos dari jerat degradasi karena gempa Jogja. Tentu, bukan hanya itu periode kelam dalam sejarah Persib. Era Marek Andrez Sladzianowsky adalah cerita suram lainnya yang tak bisa kita tendang keluar dari memori. Selama periode 2000-an sampai kini, pemain-pemain berdatangan, bersamaan dengan itu pula banyak yang gagal memenuhi ekspektasi. Meski demikian, toh kita tak bisa menampik, ada pula pemain-pemain hebat yang pernah singgah di lini tengah Persib, sebut saja misalnya Yaris Riyadi, Alejandro Tobar, Eka Ramdani, Suchao Nutnum, Cabanas, dan Miljan Radovic. Baca lebih lanjut

Tinjauan Simulakra Sepakbola

Bagi saya, membaca buku terbaru Zen R S, Simulakra Sepakbola, merupakan antusiasme tersendiri. Pasalnya, sudah lumayan lama saya mengagumi tulisan-tulisan Zen, baik yang dimuat di laman Pandit Football, maupun di Detik Sport. Bukan Kebetulan pula, saya mambaca habis Jalan Lain ke Tulehu.

Atas pembacaan tulisan-tulisannya selama ini, saya kira Zen mampu mempertemukan dua hal, yang bagi saya terasa begitu personal. Pertama, Sejarah, karena dengan ilmu ini saya merasa dipupuk dan dibentuk secara intelektual selama kuliah. Kedua, tentu saja sepak bola; karena sejak kecil,bahkan hingga sekarang, sepakbola banyak memberi saya kebahagian, cinta, bahkan indentitas (warga Bandung tak lepas dari Persib). Dengan membaca tulisan-tulisan Zen selama ini, saya pribadi merasa ada keterwakilan perasaan, ada passion yang kuat terhadap sejarah dan sepakbola.

Pada satu titik, kadang saya merasa iri terhadap kekayaan bacaan dan daya tahan dari sang pendiri Pandit Football ini, untuk konsisten berkarya. Bolehlah dalam konteks ini saya masukan faktor ketiga kenapa tulisan Zen terasa jadi begitu personal bagi saya: cita-cita lama saya semasa kuliah untuk membuat tulisan ala Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad dengan topik yang begitu saya cintai; sepakbola. Dan Zen memberi wujud nyata terhadap impian saya itu.

Dengan membaca tulisan-tulisan Zen, sebetulnya secara terselubung, saya mulai menyorot kembali mimpi yang dulu keburu kandas selepas keluar dari dunia kampus. Mungkin dengan kesunyiannya sendiri, saya mulai meraba dan mengamati model tepat penulisan sepakbola supaya terasa nikmat dibaca layaknya karya sastra. Esai-esai Zen merupakan salah satu contoh, yang di masa menguatnya media dunia maya dewasa ini, bisa begitu dinikmati oleh masyarakat.

Tulisan ini merupakan cara saya untuk mengapresiasi Simulakra Sepakbola, sekaligus upaya diri mencoba mencari bara yang masih menyala untuk bisa menulis. Mungkin tulisan ini sebatas tinjauan dan catatan. Meskipun begitu, bagi saya tinjauan Simulakra Sepakbola ini merupakan sebuah pertemuan yang intens untuk setidaknya mencoba menjaring sepercik arus pemikiran penulisnya dan menampung energinya. Hal ini terasa penting karena tulisan-tulisan Zen yang termuat di Pandit Football dan Detik Sport belum sepenuhnya utuh dan terstruktur. Dengan bukunya ini, paling tidak, ada benang merah yang lebih mudah ditarik karena bentuknya yang terkumpul dan tersusun berdasarkan kategorinya tersendiri. Dengan bentuknya yang demikian, akan lebih mudah menilai dan membandingkan antara satu tulisan dengan tulisan lainnya. Baca lebih lanjut

Taktik Berhasil Tapi…

Malam itu Jalak Harupat berasap, flare di mana-mana, dan penonton membanjir menyemburkan riuh yang mendengungkan seisi stadion. Sejenak kadang saya berpikir, dalam beberapa sudut pandang, Jalak Harupat seperti San Siro. Andrenalin tercapu, dan niscaya kita merinding di sana. Saya  pun yakin, di menit itu; kala Radovic mengambil ancang-ancang penalti, seluruh stadion diselimuti rasa antusias dan kecemasan sekaligus.  Ada emosi yang tertahan dalam hitungan detik. Ada napas yang di-pause, dan ada mulut yang melongo. Dan boommm…  ketika  bola masuk di jala kanan kiper Andritany, seisi stadion seolah pecah. Radovic berlari, lantas melakukan seleberasi. 1-0 Persib unggul atas Persija. Baca lebih lanjut