Category Archives: Sosial Budaya

Saya dan Guru; Sebuah Refleksi

Saya besar dan tumbuh di lingkungan pendidik, di lingkungan guru. Kakek saya seorang guru bahasa Indonesia, sempat juga ia beberapa lama menjabat sebagai kepala sekolah. Darinya saya mengambil banyak teladan. Kakek seorang guru bahasa Indonesia, tetapi ia mewajibkan kami, cucu-cucunya, untuk bisa berbahas sunda sebagai bahasa dan identitas kami, juga cara agar kami tidak lupa di mana kami lahir dan berpijak. Nyaris setiap akhir caturwulan, kakek memeriksa rapot kami para cucunya, kemudian memberi reward bagi kami yang mendapat nilai bahasa daerahnya tinggi. Bukan hadiah yang besar, hanya uang 500 perak. Dan itu rutin dilakukan, baik itu jika kami melakukan pekerjaan rumah, maupun jika prestasi dinilai baik. Dari kebiasaan berbahasa sunda, secara tidak langsung kami diajarkan etika; bahwa orang Sunda terbiasa berperilaku santun, terbiasa menghormati siapa-siapa yang lebih tua.

Kakek seorang guru, begitu pun kedua orang tua saya. Ibu mengajar mata pelajaran manajemen di salah satu SMK di Bandung, Bapak saya mengajar bahasa Inggris di salah satu SMA Negeri di kota yang sama. Oleh mereka saya tumbuh dan dibesarkan. Bapak saya orang yang terbiasa keras dan disiplin. Bukan hal aneh jika saya dikurung dan dikonci di kamar. Bukan tanpa sebab, tentu saja itu karena saya yang rewel atau menangis karena ingin sesuatu. Bapak, sering kali menegor, bahkan dengan nada keras manakala saya sesuka hati menaruh pakaian bekas pakai sembarangan. Ia mengajarkan saya disiplin dan bertanggung jawab dengan diri sendiri.

Ibu, seperti kebanyakan ibu lainnya bersikap lebih melindungi dan mengayomi. Ibu kebetulan juga guru BP di sekolah tempat ia mengajar. Ia tau bagaimana membesarkan hati anak-anaknya. Ibu tak pernah membebani saya dengan prestasi yang muluk-muluk, nu penting mah naek kelas, wios nilai awon ge, asal ngke taun payun langkung rajin. Ia tak pernah pula mem-push saya untuk les ini-itu. saya ikut les ketika memang saya mau, misalnya les renang. Selebihnya saya tak pernah di-leskan ke lembaga pendidikan macam SSC atau GO. Ibu dan bapa sama-sama tak pernah membebani saya dengan tuntutan prestasi, menurut mereka; asal ulah bereum nilai PPKn sareng agama na. Mun bereum moal naek.

Seperti anak pada umumnya, dahulu saya senang main, bergaul dengan anak-anak yang lebih besar, dan mulai badung. Di sekolah pun saya bukan anak yang berprestasi; matematika saya jeblok, nilai IPA saya meluncur bebas. Sejujurnya, saya bukan tipikal anak yang bisa membanggakan orang tua. Suatu waktu sering pula saya ketauan menyontek, kabur dari sekolah untuk main PS, atau ketika SMP pernah pula kena razia karena sok modis memakai sepatu convers hitam yang dilarang di sekolah. Ibu pernah dipanggil guru BP sekolah perihal sepatu ini, tp ibu tak pernah benar-benar marah. Ia hanya memperingati saya dengan sewajarnya, dengan caranya yang kira-kira bisa mengena ke hati.

Saya anak biasa yang memang tak pintar-pintar amat, tapi mungkin Tuhan selalu menaungi. Alhamdulillah, meski nilai pas-pasan saya selalu lolos ke sekolah negeri, dari SD sampai SMA, bahkan hingga kuliah saya bisa masuk ke Universitas Negeri, meski bukan jurusan yang bergengsi dan jadi rebutan selama SPMB. Saya masuk jurusan sejarah, yang mana satu angkatan mahasiswanya hanya berjumlah 40 orang 🙂

Saya besar dan tumbuh di lingkungan guru, saya tau betul keseharian seorang guru, dari bangun hingga tidur. Ibu-Bapak saya orang yang biasa-biasa, bukan tipikal orang tua yang bisa memberi fasilitas serba ekslusif bagi anaknya, tapi mereka memberi saya pelajaran dan didikan untuk saya tumbuh dan dewasa; untuk saya tumbuh dengan mindset saya sendiri, dan menghargai hidup. Dengan tanpa beban, saya belajar dan menikmati masa kecil saya. Terkadang saya nakal, terkadang pula saya taat. Ada masa-masanya saya keblinger saat SD, ngobrol saat guru menerangkan. Saya masih ingat hingga saat ini, dulu karena perilaku saya itu, Ibu Guru menyuruh saya menyalin huruf bersambung hingga 4 halaman. Pulang paling akhir, ketika teman-teman sudah ada rumahnya masing-masing.

Pernah pula, saya dipanggil ke ruang guru karena nilai ulangan bahasa inggris saya mendapat nilai 3. Saya dimarah-marahi, lantas diomeli. Sekali lagi, saya bukan anak yang baik-baik amat, juga bukan anak yang berprestasi secara akademik. Selama masa tumbuh dan berkembang saya menjalani masa pendidikan, tentu saya menemui pula guru yang galak, guru yang suka nendang-nendang meja, atau guru yang lempar kapur ketika murid berisik, atau guru yang menggebrak meja ketika muridnya tak bisa menjawab pertanyaan. Ada guru yang memperlakukan siswa dengan baik, ada guru yang memperlakukan siswa dengan penuh canda, dan tidak saya pungkiri, ada pula guru yang memperlakukan siswa dengan galak dan menyeramkan. Guru yang galak dan menyeramkan itu, saya anggap sebagai hal yang wajar-wajar saja, sebagai bagian dinamika hidup, dan kini jadi bahan cerita ketika reuni dengan teman-teman.

Saya tumbuh dan dididik oleh seorang guru, baik di rumah (karena bapak-ibu saya guru), maupun di ruang kelas. Boleh dibilang, tiap langkah yang saya capai hingga saat ini tak pernah lepas dari orang-orang yang bekerja sebagai guru. Saat ini, manakala saya sudah berkeluarga dan bekerja, sekali lagi secara kebetulan saya menautkan diri dengan dunia pendidikan. Saya seorang pekerja sejarah dan budaya di sebuah instansi pemerintah. Meski lebih banyak menyuntuki dunia sejarah, sering pula saya terlibat dengan anak-anak dan guru-guru SMA ketika kegiatan-kegiatan pengenalan sejarah yang merupakan bagian dari tugas kantor. Meski saya kini bukan seorang guru, tapi boeh lah dibilang darah saya mengalir darah guru, bahkan nafkah yang saya cari pun terikat pula dengan dunia pendidikan, dunia guru.

 

Guru Hari ini

Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, khususnya tentang guru yang dipidanakan karena mencubit siswa (Sidoarjo), dan guru yang dipukuli orang tua murid (Makasar), rasanya bagi saya pribadi terasa menohok hati. Betapa tidak, saya menempatkan diri, bagaimana apabila guru yang dipidanakan itu orang tua saya sendiri.

Menurut hemat saya, sebagai seorang yang besar dengan didikan guru, kiranya bisa menilai bahwa apapun perilaku guru di kelas, sejatinya ia mempunyai dua dunia. Pertama, seorang guru yang mengajar dan hidup dari ruang kelas (dengan siswa yang unik dan beraneka ragam). Kedua, guru yang juga menghadapi dunianya sendiri; rumah di mana ia harus menafkahi dan juga membesarkan anaknya sendiri. Dunia guru bukan hanya ruang kelas, di luar ia harus menghadapi, misalnya; tuntutan sertifikasi, membagi waktu dengan keluarga, bayar cicilan rumah, bayar cicilan motor, mengurus sanak famili yang sakit, atau memikirkan tunjangan sertifikasi yang telat, dsb, dsb.

Kita tak bisa mengabaikan fakta bahwa, dunia pribadi seorang guru, bisa tanpa sadar mempengaruhi cara ia mengajar di ruang kelas. Tentu, guru yang baik bisa memilah dunianya dan bersikap profesional di ruang kelas. Guru yang kurang baik, mungkin saja tak bisa membagi emosinya antara masalah di rumah dengan kondisi di ruang kelas, sehingga tidak menutup kemungkinan berimbas pada siswa yang di-didiknya. Apapun itu, perilaku kekerasan kepada anak didik tidak bisa dimaklumi begitu saja. Pada titik ini, orang tua dituntut untuk bisa lebih bijak menilai. Orang tua harus bisa membedakan, mana perilaku kriminal, mana perilaku mengajar yang–mesekipun pada praktenya ada cara didik yang salah.

Perihal mencubit, atau parahnya menampar, jika memang tidak ada intensi untuk melukai, baiknya tidak perlu lah orang tua memersoalkannya ke ranah hukum. Kalaupun orang tua merasa keberatan, harusnya di-dudukkan secara evaluatif atau cukup teguran kepada guru yang bersangkutan atau kepada kepala sekolah misalnya. Kalau boleh melihat konteks di masa lalu, konon berdasarkan cerita orang-orang tua, anak murid yang ditampar oleh seorang guru, lantas mengadu pada orang tuanya, justru si anak akan kena damprat dari orang tuanya sendiri.

Tentu, nilai seiring zaman ikut berubah, tidak mestilah kita mengacu pada nilai lama, tetapi ada nilai-nilai lama yang masih bisa kita serap; betapa orang tua menempatkan guru pada posisi yang penuh hormat, guru bukan dilihat sebagai tenaga yang dibayar lantas harus me-raja-kan anak, tetap pada porsinya untuk mendidik (bukan sekadar akademis tetapi juga moral-perilaku).

Mudah-mudahan asumsi saya keliru, tetapi bagi sebagian orang tua, guru hari ini seolah dilihat sebagai tenaga bayaran yang wajib membuat anak jadi pintar. Pada kondisi ini, orang tua menempatkan guru secara keliru, yang secara otomatis juga menempatkan anak secara sama kelirunya. Bagaimana bisa melihat guru dalam proporsi yang tepat, jika cakrawala orang tua terhadap anaknya sendiri sudah keliru.

Orang tua yang serba sibuk namun punyak kekuatan finansial, cenderung memfasilitasi anaknya pada sekolah-sekolah yang elit tanpa menghiraukan seberapa besar biayanya. Dengan cara pikir kurang lebih seperti ini; saya sudah bayar biaya yang besar, anak saya harus pintar, nilai akademisnya besar-besar. Nanti kalau pintar, dapat pekerjaan bagus, mudah cari uang yang banyak. Pada titik ini, anak seolah dilihat sebagai produk. Seberapa mampu guru mencetak produk yang unggul (secara akademis). Sebetulnya, menurut hemat saya, mungkin mudah saja membuat anak jadi pintar. Jejali saja pelajaran, beri tips-tips menghapal cepat, atau beri rumus-rumus cepat agar bisa menyelesaikan soal matematika yang njelimet itu. Anak pintar, sukses, banyak uang, beres perkara. Apakah orang tua mau seperti itu?

Anak yang pintar, anak yang jenius tanpa bangunan moral yang adiluhung, hanya akan seperti gedung yang rentan roboh. Bukankah karekter, moral, dan perilaku yang lebih menentukan untuk kita bisa bertahan menghadapi dunia? Coba lihat kembali film Good Will Hunting (1997), film ini mengajarkan kita betapa kejeniusan sekalipun, bukan jaminan seseorang bisa terkoneksi dengan lingkungan. Jika pendidikan anak, jika seorang anak hanya dilihat sebagai produk, maka cara membentuknya pun bisa lah layaknya mesin. Padahal, pendidikan berperan bukan sekadar membentuk  anak jadi pintar tetapi supaya anak jadi manusia seutuhnya.

Harus diingat pula, ketika orang tua menyekolahkan anaknya pada suatu-sebutlah-institusi, sejatinya secara tersirat ia menitipkan anaknya dengan kesadaran yang penuh seluruh. Sekadar menitipkan, bukan pula si institusi harus berkewajiban bertanggung jawab sepenuhnya atas karakter dan prestasi si anak. Kendali awalnya tetap ada di orang tua, ada di rumah.

Dalam semboyan Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang dirumuskan dengan ciamik oleh Ki Hajar Dewantara, kita dapat mengambil makna filosofis pendidikan; bahwa seorang pendidik harus bisa mencipta ide, memberikan motivasi, dan memberikan teladan. Lantas, dari mana seorang anak dapat memperoleh teladan? Selain teladan itu bisa diperloleh dari seorang guru (sebagai sebuah ranah profesi), teladan itu justru bisa lebih intens diperoleh dari lingkungan terdekatnya, dari contoh dan perilaku orang tua. Bukankah dalam ajaran Islam pun dijelaskan bahwa didikan awal diberikan dari contoh dan teladan orang tua. Jika orang tua secara heboh memidanakan seorang guru atau memukuli seorang guru, teladan macam apa yang diperoleh si anak?

Untuk kesekian kalinya, dalam tulisan ini saya ungkapkan, saya berbangga hati bisa tumbuh dan besar di lingkungan guru. Meskipun saya tak menutup mata; ada guru yang baik, ada pula guru yang buruk. Apapun itu, bagaimanapun sekian banyak guru yang pernah singgah di kehidupan saya, sejatinya mereka, termasuk bapak dan ibu saya, telah turut serta membentuk saya saat ini. mungkin ada puluhan guru atau ratusan yang pernah saya kenal, pernah saya peroleh inspirasinya, saya adopsi cara pandangnya, untuk jadilah saya saat ini. Mungkin saya belum menjadi orang yang sukses, belum menjadi orang yang berguna, belum menjadi orang yang besar yang mungkin ibu-bapak saya harapkan, tetapi saya masih berbangga dan berdiri tegak untuk setidaknya masih memegang nilai; bahwa guru adalah sosok yang harus selalu dihormati.

 

***

 

Post script: Hatur nuhun Bapak Iton K. Djajawisastra, Ibu Line Lindari, Bapak Atik Setiawan. Hatur nuhun guru-guru sadaya; Bu Eutik, Bu Teja, Bu Imas, Bu Ike, Pak Topan, Bu Nunung, Bu Dede, Bu Lisyanti, Bu Etty, Bu Isma, Bu Ade, Pak Dadang Abdul Fatah, Bu Nani, Bu Nenah, Pak Sukirman, Pak Slamet, Pak Tamsil, Pak Mustari, Pak Aceng, Bu Euis, Pak Sambas, Pak Hudori, Bu Dartika, Bu Heni, Bu Nonoy, Pak Aceng, Pak Marno, Bu Heti, Bu Dina, Bu Tuti, Pak Dadang, Pak Mamat, Pak Dede, Pak Deden, Pak Sofyan, Pak Deni Dimyati, Pak Odin, Pak Endang, Bu Latifah, Pak Muhtar, Bu Neni, alm. Bu Yeti,  Pak Andang, Bu Nurlela, Pak Ucup, Bu Siti Saadah, Bu Nurhadini, Bu Euis akutansi, Pak Cucu, alm. Pak Aceng, Bu Imas fisika, Pak Aris, Pak Enceng, Pak Iskandar Bahasa inggris, Bu Suwangsih, Pak Taufik Matematika, Bu Nenny matematika, Bu Elly, Bu Dedeh, Pak Tatang, Bu Etin, Pak Kamal, Bu Euis kimia, Pak Heldan, Pak Endang, Bu Lin matematika, Pak Cepi, Bu Sri Retno, Bu Euis Heni, Ibu Rengki biologi, Ibu Mala, Pak Dedi, Bu Neulis, Bu Haniah, Bu Enok Fisika, Bu Etin sejarah, Bu Titi kimia, Bu Rina PPkn, Bu Endah Surtika, Alm. Bu Inu Yusmaniar ekonomi, Bu Nina Lubis, Pak Sobana, Pak Mumuh, Pak Reiza, Pak Mas Anto, Pak Awal, Pak Rahmat, Pak Lucky, Bu Tanti, Bu Tika, Pak Fadli, Pak Gani, Pak Agusmanon, Bu Ani bahasa Belanda, Pak Miftah, Pak Bambang, Bu Ety, alm. Pak Benjamin Batubara, Pak Dade, Bu Diena, Bu Ietje, Pak Taufik Hanafi, Pak Fahmi, Pak Kunto, Pak Mamat Ruhimat, Bu Nani, Bu Teti. Bu Susi, Bu Ida, Bu Rini, Alm. Pak Jodi, Pa Widi,dll yang berkontribusi secar formal dan informal, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

 

 

~ Hary G. Budiman

Iklan

Wartawan di Konferensi Asia-Afrika

Wartawan, ia ada dan selalu ada untuk menyampaikan berita. Dari berita baik hingga kabar buruk, dari berita lokal hingga internasional, dari yang sifatnya remeh temeh sampai yang menggemparkan macam gejolak politik dan tindak korupsi.

Pekerjaan wartawan memang menghimpun informasi dan menyampaikan berita, namun kadang tidak kita sadari, bahwa wartawan juga berperan sebagai saksi sejarah. Untuk membuktikannya, tak perlu melihat jauh pada sepak terjang wartawan hebat di Perang Vietnam atau Perang Teluk, cukup melihat kembali Kota Bandung di 60 tahun yang silam. Kala itu, Kota Bandung menjadi magnet bagi para wartawan dari berbagai penjuru dunia. Tahun 1955 Kota Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 24 April. Tentu saja, ketika itu banyak wartawan handal nimbrung di Bandung.

Salah satu wartawan legendaris Indonesia, Rosihan Anwar (alm) menuliskan pengalamannya meliput KAA pada 1955 dalam bukunya Petite Histoire Indonesia (2004). Dalam tulisannya itu, ia mengungkapkan: “Di Bandungnya Indonesia, di situlah bertemu untuk pertama kalinya begitu banyak pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, membicarakan perihal perjuangan kemerdekaan dan perdamaian dunia. Di situlah bertemu tokoh-tokoh penting seperti Sukarno, Nehru, Ali Khan, Zhou En-lai, U Nu, Kotelawala, Nasser dll.” Wartawan tiga zaman itu pun bercerita bukan sekedar bagaimana KAA berlangsung, namun juga menuturkan pengalaman pribadinya selama peliputan. Dan ini menjadi menarik, karena tulisan itu pulalah kita bisa tahu peran wartawan sebagai saksi sejarah, juga bagaimana wartawan melakukan pekerjaannya di tengah sebuah peristiwa besar macam KAA.

Pada peristiwa KAA itu, wartawan-wartawan terkemuka di Indonesia datang dan meliput. Rosihan Anwar saat itu menjadi Editor harian Pedoman yang cukup banyak pembacanya. Ada pula Mochtar Lubis dari harian Indonesia Raya, B.M. Diah dari harian Merdeka, Suardi Tasrif dari Abadi, Adam Malik dari Antara, Djamaluddin Adinegoro dari PIA, Mohamad Isnaini dari Suluh Indonesia, Mahbub Djunaidi dari Duta Masyarakat. Ada pula Umar Said dari Harian Rakyat. Orang-orang media massa terdiri dari wartawan surat kabar, wartawan radio, wartawan foto, kolumnis dalam negeri dan luar negeri, seluruhnya berjumlah 500 orang. Meski demikian, yang tercatat hanya berjumlah 377 wartawan, terdiri dari 214 wartawan luar negeri dan 163 wartawan dari Indonesia.

Ketika itu, wartawan-wartawan Indonesia datang dengan perlengkapan yang seadanya, kamera pun belum banyak dipakai. Tidak ada barisan kamera yang bersifat dominan karena televisi belum lazim sebagai peliput. Yang ada hanya kamera untuk membuat film dokumenter atau jurnal berita.

Markas Para Wartawan di Swarha
Menurut keterangan Rosihan Anwar dari bukunya Petite Histoire Indonesia, para wartawan menginap di sebuah hotel bertingkat yang terletak di depan kantor pos. Hotel tersebut bernama Swarha. Kala itu, para wartawan memang menginap di Hotel Swarha karena Hotel Savoy Homman dan Hotel Preanger seluruh kamarnya sudah penuh dipakai para delegasi peserta KAA. Panitia KAA saat itu memang secara khusus menyediakan Hotel Swarha sebagai tempat menginapnya para wartawan. Pertimbangannya, Hotel Swarha yang terletak di di Jalan Raya Timur (sekarang Jalan Asia Afrika/samping Mesjid Agung) itu berada di seberang kantor pos besar, sehingga memudahkan para wartawan mengirimkan berita lewat telegram.

Lokasi Hotel Swarha cukup menguntungkan bagi para wartawan, karena terletak tidak jauh dari dari Gedung Merdeka. Jadi, tidak diperlukan ongkos khusus untuk mencapai lokasi konferensi, cukup dengan berjalan kaki. Rosihan dalam catatannya menyebutkan bahwa Hotel Swarha sebagai hotel yang serba sederhana. Hotel ini berlantai empat; lantai pertama tidak memiliki kamar, sementara di lantai kedua hingga keempat, masing-masing memiliki delapan kamar.

swarha

Hotel Swarha sebetulnya merupakan sebuah gedung peninggalan Belanda yang dibangun pada 1930-1950 hasil rancangan Wolf Schoemaker dengan gaya arsitektur eklektik beratap tumpuk seperti gaya Cina. Pada tahun 1950-an gedung ini sengaja diperluas untuk kepentingan KAA. Nama Swarha sendiri diambil dari nama sang pemilik gedung itu.
Hotel Swarha benar-benar menjadi markas besar bagi para wartawan peliput KAA, baik dalam dan luar negeri. Selain Rosihan Anwar yang menginap di hotel tersebut, ada pula Mochtar Lubis wartawan yang pernah dipenjara oleh Pemerintah Orde Lama. Mochtar pernah bekerja di Kantor Berita Antara, lalu mendirikan surat kabar Indonesia Raya tahun 1949. Ia juga terkenal sebagai koresponden perang ketika pecah pertempuran Korea Utara dan Korea Selatan pada 1950. Di Hotel ini pula sastrawan penulis novel Layar Terkembang, Sutan Takdir Alisjahbana menginap, bersama Sudjatmoko, dan juga Syahrir.

Selain tokoh-tokoh pers nasional, beberapa tokoh pers terkemuka di dunia pun turut menginap di Hotel Swarha. Ada Arthur Conte, seorang wartwan terkemuka asal Prancis. Conte begitu dikenal karena sempat menjabat sebagai Presiden Majelis Uni-Eropa tentang Peradaban Barat. Tak kalah dengan Rosihan Anwar, Conte pun menuliskan pengalamannya selama meliput KAA dalam sebuah buku yang berjudul Bandoeng, Tournat de l’Histoire (Bandung, Titik Balik dalam Sejarah). Conte mengisahkan, para wartawan tinggal di sebuah markas yang sangat sempit. Markas yang dimaksud itu tidak lain adalah Hotel Swarha.

Ada pula wartawan berdarah Afrika-Amerika yang turut bermarkas di Hotel Swarha, ia adalah Richard Wright. Selain sebagai wartawan, Wright justru dikenal sebagai penulis kawakan asal Amerika yang beberapa kali dicalonkan sebagai pemenang Nobel Sastra. Ia merupakan salah satu penulis yang concern dengan masalah rasialisme. Lewat novelnya yang berjudul Uncle Tom’s Cabin dan Native Son, Wright mencoba menggambarkan realitas sosial dan diskriminasi yang terjadi di Amerika. Isu-isu ini tentu saja sejalan dengan visi KAA yang mencoba menegakkan nilai-nilai kemerdekaan secara universal. Seperti pula Rosihan Anwar dan Arthur Conte, Richard Wright pun menuliskan pengalamannya selama meliput KAA dalam bukunya yang berjudul The Color Curtain, A Report on The Bandung Conference yang terbit pada 1956. Buku-buku yang ditulis oleh para wartawan itu, menggambarkan betapa mereka, para wartawan, bukan sekedar menjalankan tugas, namun mereka pun memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pendokumentasian sejarah; sejarah yang boleh jadi turut membentuk dan mempengaruhi perkembangan negara-negara di dunia.

Kisah seputar Peliputan

wartawan dalam dan luar negeri

Dalam hal peliputan KAA, para wartawan ini punya kisah tersendiri. Misalnya tentang dinamika peliputan di Gedung Merdeka, seperti yang dikemukakan oleh Rosihan Anwar. Awak media yang jumlanya banyak, ternyata bisa ditampung di dalam ruangan gedung karena mereka tidak menumpuk pada saat yang sama, namun memencar mencari berita, pergi ke bungalo-bungalo di Cimbuleuit, Cipaganti, dan Lembang, di mana para delegasi menginap. Di dalam Gedung Merdeka, untuk menciptakan hubungan lancar antara sekretariat dan pers seperti penyiapan dan penyebaran press release, pemerintah sengaja memanggil pulang tenaga-tenaga diplomat di kedutaan besar RI untuk ditugaskan dalam pekerjaan Public Relations.

Kerja keras wartawan dalam meliput dikemukakan pula dalam Harian Merdeka (20 April 1955) disebutkan bahwa Wartawan bekerja berdesak-desakan padahal sudah kelelahan. Dapat kita bayangkan, pada saat itu sekian ratus wartawan bekerja pada beragam media yang berbeda, dari negara dan suku bangsa yang berdeba-beda pula, dan dengan beragam kesibukan. Mulai dari hilir-mudik meliput di Gedung Merdeka hingga ke penginapan-penginapan para delegasi, menghimpun informasi dan mengolahnya di Gedung Swarha. Tak sampai di situ, informasi yang didapat tentu harus dikirim pada kantor berita masing-masing, maka kantor pos pun ketika itu boleh jadi selalu dipadati oleh sekian banyak wartawan yang akan mengirimkan telegram. Untuk kepentingan peliputan, saat itu kantor pos Bandung sengaja menambah kapasitas pengiriman telegram dari 100 kata menjadi 200 kata.

Tentu kondisi saat itu sangat jauh berbeda dengan kondisi masa kini ketika semuanya dipermudah dengan internet. Dahulu sistem kerja peliputan serba manual. Wartawan lazim memiliki kemampuan stenografi karena alat rekam tentulah belum begitu populer ketika itu, mesin tik pun menjadi teman akrab, dan kamera manual menjadi barang yang cukup mewah, ditambah lagi dengan proses pengiriman berita yang harus melalui telegram atau pos. Ada keterangan menarik yang dikemukakan oleh Paul Tedjasurja, salah satu fotografer KAA yang masih hidup hingga saat ini. Ketika KAA berlangsung, Paul masih berusia 25 tahun. Menurutnya, saat itu Harian atau Koran yang mengutus para wartawan belum memiliki fotografer sendiri, sehingga para wartawan memperoleh photo dari para press agency. Press agency inilah yang dilakoni Paul, dan ia menjual hasil jepretannya yang diperoleh dari pagi hingga malam pada Koran-koran lokal. Tentu saja kamera yang digunakannya pun masih sederhana, yaitu kamera selica tipe lama.
Terbayang sudah, kerja wartawan di masa itu sangatlah berat. Pantaslah kita semua angkat topi untuk kerja para wartawan di masa itu. (H.G. Budiman, dari berbagai sumber)

Kopi di Masa Lampau; Dari Preanger Stelsel Hingga Fabriek Koffie Aroma

Pada abad ke-20 sebelum Perang Dunia II meletus, nun jauh di Eropa sana, para pemikir besar Prancis macam Albert Camus, Sartre, Simon de Beauvoir, dan komplotannya biasa berdiskusi sambil menghabiskan kopi di Café pinggiran Sungai Seine. Adakah mereka sadar bahwa kopi yang mereka minum diperas dari negara terjajah macam Indonesia.

kopi Aroma_edit

Kopi adalah bagian dari gaya hidup. Bagi orang-orang Eropa; semisal Inggris dan Prancis, kopi dianggap sebagai sarana yang menunjang diskusi ruang publik. Bagi mereka, kopi mengakomodir terjadinya diskusi berbau politik, bahkan tak jarang kental dengan unsur akademis. Bagi kita; negara dunia ketiga, di masa dua abad silam, kopi adalah perlambang dari kolonialisme sekaligus penindasan. Tapi, ya sudah lah, toh itu masa lalu, namun dari masa lalu itu pula kita bisa tahu bahwa Priangan merupakan salah satu daerah tertua yang pertama kali mengenal kopi di Hindi-Belanda (Indonesia). Perlu diketahui bahwa bibit kopi pertama ternyata sampai lebih dulu di Malabar. Oleh seorang Belanda, bibit tersebut dikirim ke ke Gubernur Belanda di Batavia pada 1696, namun pengiriman tersebut hilang karena di Batavia terjadi banjir. Barulah pada 1699 dilakukan pengiriman ulang. Selepas itu, keuntungan besar yang menjanjikan dari budidaya tanaman kopi mendorong VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) untuk memperluas daerah pembudidayaan kopi, maka dilakukanlah perluasan budidaya kopi ke daerah Sumatera, Bali, Sulawesi, hingga Timor.

Khusus di daerah Priangan, penanaman kopi mulai tersebar luas sekitar 1720 seiring dengan diperkenalkannya Preanger Stelsel, yaitu semacam tanam paksa kopi bagi rakyat pribumi, yang hasilnya disetorkan kepada pemerintah Belanda. Dari kondisi yang demikian, para pemimpin lokal seperti para Bupati menjadi alat yang pas untuk dimanfaatkan pemerintah Belanda. Maka, bermunculanlah berbagai gelar kebangsawanan, serta berbagai kemewahan yang ditawarkan oleh Belanda. Tentu saja ini tidak cuma-cuma; bupati yang paling banyak menyetor, mendapatkan kemewahan dan status sosial yang lebih tinggi. Efeknya, bupati terus mendorong rakyatnya menanam kopi. Simpulannya, komoditi kopi di masa lampau memiliki hubung kait dengan kondisi sosial masyarakat di Priangan.

Kota Bandung sebagai salah satu wilayah penting, pastinya turut terpengaruh dengan kebijakan Preangerstelsel-nya Belanda. Seandainya tak diberlakukan Preangerstelsel, mungkin saja hari ini kita tidak bisa melihat Gedung Balai Kota. Gedung yang merupakan salah satu gedung tertua di Kota Bandung tersebut, dibangun pada 1819 sebagai gudang kopi atau disebut sebagai Koffie Pakhuis. Saking berpengaruhnya kopi dalam kebudayaan di Priangan, hingga saat ini dikenal istilah “ngopi”. Bagi masyarakat Sunda, istilah ngopi bukan sekedar identik dengan minum kopi, namun juga mengacu pada menyantap hidangan camilan seperti ubi rebus, pisang goreng, kue-kue dan lain-lain. Artinya, seiring berkembangnya zaman, istilah ngopi bagi masyarakat Sunda telah mengalami perluasan makna. Ini juga memberikan kita penerangan bahwa kebiasan ngopi di kalangan masyarakat Sunda sudah terjadi sejak lama.

Istilah Preanger Planter –yang artinya pengusaha perkebunan—pun begitu popular pada awal abad ke-20 di Bandung. Hal ini juga memberi kesan betapa perkebunan kopi sangat mungkin banyak tersebar di sekitar Bandung.

Fabriek Koffie Aroma

Hingga saat ini sisa-sisa kejayaan kopi masih bisa kita temui di Bandung, khususnya di sebuah toko/pabrik kopi di Jalan Banceuy yang bernama Fabriek Koffie Aroma. Pabrik kopi ini dirintis oleh Tan Houw Sian sejak tahun 1930-an. Sebelum memiliki pabrik sendiri, di tahun 1920-an Tan Houw Sian menjadi pekerja di pabrik kopi milik Belanda. Upah dari hasil kerja seharian itu terus ditabungya sehingga ia bisa merintis pabrik kopi pada tahun 1930 dan membeli sendiri mesin pengolah kopi. Kini, pemilik Fabriek Koffie Aroma telah diwariskan ke generasi kedua, yaitu Bapak Widyapratama, anak dari Tan Houw Sian.

Kendati hampir kalah pamor oleh aneka coffeehouse yang serba mewah dan mahal, kopi Aroma tetap menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi para penikmat kopi sejati. Keunikan kopi Aroma terletak dari cara pengolahannya yang masih klasik. Sebagian besar peralatan pengolahan kopi pun masih menggunakan peralatan lama. Misalnya tungku pengolah yang telah berusia 78 tahun. Tungku tersebut merupakan tungku buatan Jerman tahun 1936 dengan merk Probat. Kayu bakar yang dipilih adalah kayu dari Pohon Karet. Kayu jenis ini tidak menimbulkan asap tebal, tidak membuat perih mata sekaligus tidak mempengaruhi aroma dan rasa kopi. Dalam Setiap harinya, Pabrik Kopi Aroma menyangrai tidak kurang dari 200 kg kopi robusta dan arabika. Dari 200 kg tersebut hanya akan menghasilkan 160 kg karena penyusutan kandungan kopi. Setelah dipilih biji yang bagus, biji kopi kembali diayak kemudian digiling dan dikemas sesuai permintaan pembeli. Harga kopi di toko ini pun relatif murah. Dengan Rp. 18.500, pembeli bisa mendapatkan 250 gram kopi robusta dengan kualitas yahud. Adapun kopi Arabika dijual dengan harga Rp. 22.500 saja per 250 gram-nya.

Salah satu sebab yang membuat kopi Aroma terasa spesial adalah biji kopi yang disangrai merupakan biji kopi yang telah disimpan selama delapan tahun !! Sungguh sangat lama memang, namun dengan waktu selama itu, kadar kafein yang terkandung dalam kopi akan semakin rendah. Rendahnya kadar kafein ini tidak akan membuat perut kembung dan tidak menimbulkan rasa kecut di tenggorokan. Lamanya proses penyimpanan disebut sebagai proses aging yang bermanfaat untuk memantapkan cita rasa kopi.

Fabriek Koffie Aroma bisa dikatakan sebagai warisan Bandoeng Tempo Doeloe yang masih tersisa. Selain memiliki cita rasa yang khas, Fabriek Koffie Aroma juga menawarkan nuansa jadul yang cukup kental, terlihat dari bangunan Art Deco yang masih nampak serta tampilan di bagian depan toko. Pada bagian depan, sebelum memasuki ruang pengolahan, terdapat ruang kaca yang dipagari mesin pemecah biji kopi dan toples gelas besar tempat kopi serta timbangan. Dari pintu ke bagian utama bangunan yang terbuka, akan terlihat tiga buah sepeda kuno tergantung di dinding atas. Selain itu digantung pula beberapa poster iklan kuno yang menawarkan kopi Aroma. Nuansa jadul pun semakin terasa ketika melihat kemasan Kopi Aroma, dimana terdapat tulisan dengan ejaan lama.

Menikmati kopi secara langsung di Fabriek Koffie Aroma agaknya bisa menghadirkan sensasi yang lengkap; kopi yang mantap dipadu dengan nuansa tempo dulu. Rasa-rasanya menikmati kopi di sini tidak kalah prestisius dengan para intelektual Eropa yang doyan minum kopi sambil menikmati romantisme kota.

H.G. Budiman

ASAL USUL KOPI DI NUSANTARA

ASAL USUL KOPI DI NUSANTARA

Mencoba melihat asal usul kopi dari sudut pandang sejarah bukanlah perkara mudah. Asal usul kopi masih bertaut dengan cerita rakyat, yang tentu saja belum terbukti kebenarannya. Walaupun demikian, kisah terdahulu tentang kopi setidaknya bisa ditelusuri dari cerita rakyat tersebut, sehingga bisa diduga kemunculannya. Dugaan tersebut menyebutkan bahwa kopi pertama kali berasal dari Ethiopia pada sekitar tahun 800 SM. Keturunan asli nenek moyang orang Ethiopia—disebut orang-orang Oromo—percaya bahwa kopi memiliki asal-usul, yang bisa ditelusuri dari sebuah cerita rakyat tentang penggembala bernama Khaldi. Alkisah, sang pengembala mengamati kawanan kambing gembalaannya yang tetap terjaga bahkan ketika matahari terbenam setelah memakan sejenis kacang-kacangan. Ia pun mencoba memasak dan memakan kacang-kacangan tersebut, hingga Khaldi pun merasakan pengaruh pada tubuhnya untuk tetap terjaga. Kisah tersebut dikenal sebagai awal mula penemuan kopi. Kendati demikian, kebenaran kisahnya masih diragukan, disebutkan dalam buku The World of Caffeine (2001), bahwa kisah tentang Khaldi baru bisa ditemukan dalam sumber tertulis pada 1671 (Weinberg dan Bealer: 2001: 3-4).
Pendapat lain mengungkapkan bahwa kopi ditemukan oleh Sheik Omar. Pendapat ini mengacu pada sumber manuskrip Abd-Al-Kadir yang mengisahkan tentang Sheik Omar yang memiliki kemampaun untuk menyembuhkan orang sakit melalui doa, suatu hari Sheik Omar mengasingkan diri dari Mekah ke sebuah gua di tengah gurun pasir sekitar daerah Ousab. Pada saat ia merasa lapar, Sheik Omar mencoba memakan kacang-kacangan yang ada pada semak belukar. Setelah dimakan, rasa buah tersebut ternyata pahit. Agar rasanya lebih baik, ia pun mencoba membakar kacang-kacangan tersebut dan mengubahnya menjadi lebih keras. Untuk melunakkannya lagi, Omar mencoba mendidikannya dengan air. Hasilnya, kacang-kacangan tersebut berubah menjadi cairan coklat yang harum dan memiliki keawetan tersendiri untuk berhari-hari. Berita penemuan Sheik Omar ini menyebar hingga Mekah, dan ditelusuri kembali melalui sebuah penelitian. Kopi pun dikenal di dunia Arab melalui Mesir dan Yaman (Souza, 2008: 8).
Setelah sampai di jazirah Arab, kopi menyebar hingga Ottoman Turki tepatnya di Konstantinopel pada 1453. Kebenaran informasi tersebut belum bisa dipastikan, namun menurut Brian Cowen dalam bukunya yang berjudul The Social Life of Coffee (2005), catatan tertua tentang kopi berasal dari William Bidulph tahun 1660 yang menulis surat dari Aleppo. Ia adalah orang Inggris pertama yang menuliskan tentang kopi. William menuliskan bahwa: “orang-orang Turki paling sering meminum Coffa, sejenis minuman berwarna hitam, terbuat dari sejenis kacang-kacangan yang disebut Coava, yang dibudidayakan melalui penggilingan, dan dididihkan dalam air panas, mereka meminumnya selagi panas seakan bisa mengakibatkan terluka karena panasnya” (Cowen, 2005: 5). Pada abad ke-16, kopi sudah mencapai daerah Timur Tengah, Persia, Turki, dan Afrika Utara. Biji kopi pertama kali diekspor dari Ethiopia ke Yaman. Pedagang-pedagang Yaman, membawa kopi ke kampung halamannya, dan mengembangkan kembali tanaman kopi. Adapun kopi pertama kali dibawa keluar dari Timur Tengah pada 1670 oleh Sufi Baba Budan, dari Yaman ke India. Setelah itu kopi menyebar ke Itali dan seluruh Eropa, kemudian ke Indonesia, dan Amerika Selatan.
Legitimasi dan pengakuan terhadap citarasa kopi dari Timur Tengah di daratan Eropa, menurut Brian Cowen, dilakukan oleh sekelompok orang yang disebut “Virtuoso”, yaitu kelompok elite yang memiliki kepedulian pada sastra, dan kebudayaan dari zaman Reinanssance (Jurnal Wacana, 2006: 237). Kelompok Virtuoso ini juga membawa eksotisme dari dunia Timur seperti Arab dan Afrika. Kelompok Virtuoso identik dengan para intelektual dan pecinta kebudayaan. Kata Virtuoso sendiri berasal dari bahasa Itali, yang artinya seseorang yang memiliki kemampuan intelektual menonjol dalam bidang seni, menyanyi, atau memainkan alat musik (Merriam-Websters online). Melalui pernyataan tersebut, dapat diperkirakan bahwa kopi masuk ke Eropa melalui Itali. Kopi masuk ke Eropa melalui perdagangan yang berkembang di Venice, di mana komoditi dari Afrika Utara, Mesir dan Timur Tengah diperjualbelikan. Penerimaan terhadap kopi menjadi semakin meluas ketika Paus Clement VIII pada 1600 menetapkan kopi sebagai minuman umat Kristen (http://en.wikipedia.org/wiki/Coffe).
Setelah komoditi kopi diterima luas di Eropa, kopi mulai menjadi komoditi penting dan memiliki nilai jual yang tinggi. Kopi pun secara perlahan menjadi bagian dari imprealisme dan kolonialisme lama, juga menjadi bagian penting dalam menopang ekonomi negara penguasa daerah koloni. Pada kondisi yang demikian, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang mulai memasuki Indonesia pada pertengahan abad ke-16, menjadi gambaran yang cocok sebagai sebuah organisasi dagang yang mampu mengoptimalkan komoditi kopi. Menurut William H Ukers dalam New York: Tea and Coffee Trade Journal (12 Februari 2010), disebutkan bahwa VOC atau The Dutch East India Company merupakan pengimpor kopi pertama dalam skala besar. Setelah mendapatkan komoditi kopi, VOC membudidayakan kopi di Jawa dan Sri Langka. Adapun ekspor kopi pertama dari Jawa ke Belanda, pertama kali terjadi pada 1711.
Jika pada 1711 VOC sudah mampu menyetorkan komoditi kopi ke Belanda, berarti kopi sudah mulai masuk ke Indonesia sebelum tahun 1711. Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa kopi sampai di Indonesia sekitar abad ke-15 (Ensiklopedi Indonesi no 9: 127). Adapun menurut Creutzberg dan van Laanen dalam Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia (1987), dikemukakan bahwa kopi dibawa ke Hindia-Belanda pada 1669, namun bibit kopi pertama ini punah karena kiriman kopi yang dikirim, terkena bencana banjir di Batavia. Kiriman kopi selanjutnya tiba pada 1699 dan menjadi sumber bagi segala kopi yang tumbuh di Jawa dan di bagian-bagian lain kepulauan Nusantara sampai abad ke-21 (Creutzberg dan Van Laanen, 1987: 157). Mengenai kedatangan biji kopi ke Hindia-Belanda ini, dilakukan dengan cara diselundupkan oleh seorang pria bernama Pieter van de Brooke, pedagang berkebangsaan Belanda dari pusat perdagangan kopi yang saat itu terletak di Mocha (Yaman). Ia membawanya ke Amsterdam Botanical Garden untuk diteliti lebih lanjut. VOC lalu mengembangkannya di Sri Lanka dan India, sebelum membawanya ke Hindia-Belanda dan mendapat sukses besar karena kecocokan dengan iklim tropis (Teggia dan Hanusz, 2009).
Budidaya kopi pun mengalami perkembangan pesat, terutama semenjak diberlakukannya kebijakan Preanger Stelsel yang dimulai pada 1720 di Jawa Barat atau di Priangan. Dalam pembudidayaan kopi di Priangan, para petani harus membuka hutan, menanam kopi, memelihara kebun kopi, hingga kopi tersebut panen. Sistem ini mengabaikan kepentingan petani dalam menghasilkan padi sebagai makanan pokok (Ali, 1975: 68). Terlepas dari penderitaan yang menimpa petani, VOC mendapat keuntungan besar di pasar internasional. Selama 10 tahun, eksport meningkat menjadi 60 ton per tahun. Indonesia adalah tempat pertama kali kopi dibudidayakan secara luas di luar Arab dan Ethiopia. Hingga akhirnya, VOC mampu memonopoli perdagangan kopi dari tahun 1725 sampai 1780.
Inilah awal mula dikenalnya nama Java Coffee atau kopi Jawa di mata internasional. Pembudidayaan kopi di Indonesia pun terus berlanjut, meski VOC mengalami kebangkrutan pada 1799. Ketika Pemerintah Hindia-Belanda memegang kekuasaan pada awal abad ke-19, kopi tetap menjadi komoditi penting yang dipertahankan. Pada periode awal ketika Hindia-Belanda berada dibawah kekuasaan Peralihan Inggris (1812-1816), terjadi berbagai penyesuaian-penyesuaian dalam pembudidayaan komoditi, termasuk atauran penanaman kopi. Pada masa itu, peraturan penanaman kopi tidak seketat pada masa-masa VOC. Pembudidayaan kopi terus berlanjut hingga masa pemerintahan Hindia-Belanda memberlakukan politik pintu terbuka, yaitu sebuah kebijakan yang mengijinkan pemodal asing menanamkan modalnya di Hindia-Belanda. Pada 1830, berlakulah sistem tanam baru yang dinamakan Culturstelsel atau Sistem Tanam Paksa. Pada periode Tanam Paksa, tanaman kopi yang dipertahankan sebagai cara utama menanam atas perintah yang berwajib, diperluas sampai ke seluruh Jawa (terutama Jawa Tengah dan Timur, yang meliputi Semarang, Sala, Kedu, Besuki, dan Malang) dan juga di pulau-pulau lain, seperti di Palembang, Sumatera Barat, Sumatera Timur, dan Lampung (Kanisius, 1988: 19).
Pada 1833, pemerintah menetapkan monopoli atas perdagangan kopi di Jawa. Pada tahun tersebut, panen kopi yang dihasilkan rakyat wajib diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah, adapun kelebihan hasil panen dan hasil yang terkena pajak hanya dijual kepada pemerintah dengan harga yang ditentukan sendiri oleh pemerintah. Peraturan tersebut memberatkan petani pribumi karena lahan yang harus ditanami mencapai setengah sampai seperlima dari lahan milik petani, bahkan kadang melebihi kapasitas lahan (Dahlan, 2006: 12).
Ketika pada tahun 1850-an dan 1860-an sebagian besar wajib tanam kopi dan monopoli lambat laun dihapuskan, tanam paksa kopi tetap dilaksanakan walaupun dalam bentuk yang lebih lunak. Komoditi kopi pun sempat mengalami penurunan ketika pada 1880-an terjadi hama atau penyakit daun kopi. Penyakit daun yang dimaksud dikenal dengan nama Hemiliea vastatrix. Penyakit daun tersebut dapat menjalar ke mana-mana. Hama tersebut menyerang pada perkebunan di daratan rendah. Sementara tanaman kopi di daratan tinggi, terutama di ketinggian 1.000-1.700 meter dapat bertahan, seperti kopi yang ditanam di Pegunungan Ijen Jawa Timur. Untuk mengatasi kerusakan akibat penyakit tersebut, pada 1875 didatangkan jenis Liberika yang berasal dari Afrika Barat, yang pada awalnya diduga dapat bertahan terhadap hama Hemiliea vastatrix, namun pada kenyataannya tidak mampu bertahan. Jenis kopi Liberika digunakan untuk menyulam kopi Arabika yang mati, jadi merupakan tanaman campuran dua jenis kopi. Karena terjadi tanaman campuran dari kedua jenis itu, maka menghasilkan tanaman kopi jenis baru, dan muncul hibrida-hibrida baru. Ternyata hibrida ini lebih resisten terhadap Hemiliea vastatrix. Agar hama Hemiliea vastatrix dapat ditangkal dengan optimal, maka didatangkan kembali biji kopi lain, yaitu biji kopi jenis Robusta (dikenal pula sebagai kopi Canephora). Biji kopi ini ternyata mampu bertahan dari hama Hemiliea vastatrix, meskipun tidak sampai 100% (Kanisius, 1988: 20)
Setelah masa penurunan akibat hama penyakit daun, secara sistematis penanaman kopi atas perintah yang berwajib, dalam hal ini pemerintah, makin dikendorkan. Walaupun demikian, penanaman kopi saat itu sudah menyebar luas ke pulau-pulau di luar Jawa. Di Manado, kopi sudah diperkenalkan sejak masa VOC, sementara di Sumatera Selatan dan Tengah, kopi diperkenalkan melalui perkebunan rakyat. Pemerintah Hindia-Belanda sempat mencoba membudidayakan kopi melalui sejenis tanam paksa di luar pulau Jawa, namun usaha tersebut tidak berhasil. Memasuki awal abad ke-20, pemerintah Hindia-Belanda akhirnya melepaskan usaha penanaman paksa kopi di pulau-pulau selain Jawa, dari titik inilah di daerah seperti Sumetera, perkebunan-perkebunan rakyat mulai berkembang pesat. Kondisi perkembangan kopi pun menjadi berbalik; di Pulau Jawa hanya beberapa distrik di Jawa Barat dan Timur yang mempertahankan penanaman kopi sesudah tanam paksa dihapuskan, sementara itu di Sumatera , perkebunan kopi justru tumbuh pesat (Creutzberg dan van Laanen, 1987:159).

(Hary G. Budiman, Penikmat kopi tubruk)

DAFTAR SUMBER

Buku
Cowan, Brian. 2005.
The Social Life of Coffee; The Emergence of British Coffehouse.London: Yale University

Creutzberg , Pieter dan J.T.M. van Laanen. 1987.
Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor.

Kartodirdjo, Sartono. 1992.
Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 dari Emporium Sampai Imperium. Jakarta: Gramedia.

Koentjaraningrat, 1984.
Masyarakat Desa di Indonesia. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Teggia, Gabriella dan Mark Hanusz. 2003.
A Cup of Java. Singapur; Equinox.

Ukers, William H. 1922.
“The Introduction of Coffee into Holland”. All About Coffee. New York: Tea and Coffee Trade Journal. 12 Februari 2010.

Wacana; Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Vol 8 no 2, Oktober 2006.
Universitas Indonesia.

Weinberg, Bennett Alan; Bealer, Bonnie K. 2001.
The world of caffeine : the science and culture of the world’s most popular drug. New York: Routledge.

Dengan kaitkata , , ,

PERSEBARAN TAMAN KOTA DALAM PETA BANDOENG (1933)

Pieter Sijhoff Park (1885)

Ijzerman Park (1919)

Molukken Park (1919)

Tjitaroem Plein (1920)

Oranje Plein (1920)

Jubileum Park (1923)

Insulinde Park (1925)